Senin, Maret 22, 2010

Ampuni Kami



Tuhanku,
Tolong dengarkan….

Mungkin kau bosan akan kami
Yang selalu menari di atas kubangan dosa
Tertawa di atap nista

Kala jiwa ini terpuruk
Baru kami merunduk
Tak kuasa menatapMu

Ampuni kami,
Mahlukmu yang paling sempurna
Tapi sarat dengan segala dosa…..

Seikat Edelweis Untuk Kekasih

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk saling memahami. Aku dan dia telah bersepakat untuk menikah. Beberapa saat setelah aku menyelesaikan kuliah. Semoga mimpi-mimpiku bersamanya bisa kugapai nanti.

Dan ia tau pasti, bagaimana seringnya aku mendaki gunung-gunung itu, tapi baru kali ini dia meminta bunga edelweis dariku. Bahkan tak sempat aku berpikir mengapa tiba-tiba ia meminta bunga itu. Padahal itu tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Seperti biasa aku berangkat bersama teman-teman kampusku. Tujuanku adalah mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa, yang mengemban sebuah misi mulia saat itu, membersihkan rutenya. Aku harus ikut, karena aku adalah salah satu panitia acara besar tersebut.

Seperti biasa juga, dia mengantarku sampai stasiun kereta dimana kami akan berangkat menuju kota terdekat. Hhmmm… ada pandangan kosong dan tak bisa kumengerti. Pandangan itu beda dari biasanya. Entahlah apa arti tatapan itu. Rasanya dalam sekali menusuk relung hatiku.
Sesekali aku menoleh kebelakang, memastikan apakah dia masih ada disitu. Nyatanya, dia seperti terpaku di tempatnya berdiri. Tak bergeming sedikitpun. Tatapan matanya tetap kosong. Entah mengapa akupun seperti tersihir oleh tatapan itu.

Aku tau, dia sakit…. Leukimia adalah penyakit yang dapat merenggut nyawanya, kapanpun. Maafkan aku… Terpaksa dia kutinggalkan sendiri dalam kesakitannya. Karena aku tergabung dalam kepanitiaan yang menempatkanku pada posisi Bendahara. Jadi sangatlah tidak mungkin bagiku untuk tidak ikut dalam perjalanan kali ini.

Dalam kencangnya hembusan angin di kereta, aku lambaikan tanganku. Dia tetap tak bergeming. Tak bergeser sejengkalpun dari tempatnya berdiri. Tapi dia tersenyum, senyuman tertulus dan termanis yang pernah kulihat darinya.

Entah mengapa ada rasa aneh menyelimuti dadaku. Sepertinya akan ada yang terjadi setelah ini. Berat sekali aku menginggalkannya dalam kesendirian, dadaku sesak, mataku berkaca-kaca. Mungkin  karena aku menghawatirkan kesehatannya, atau …. Aaah… entahlah…. Semuanya kuserahkan kepadaNya. 
Sampailah kami di kaki gunung. Berhari-hari kami berjalan, kadang semalam membentangkan tenda untuk mengusir penat, lelah dan lapar yang mendera. Sampai akhirnya berangkat kembali menuju puncak.

Sepanjang pendakian, aku mencari bunga edelweis di lereng-lerengnya. Memang, di situ ada padang edelweis, tapi entah mengapa aku tak tertarik dengan bunga edelweis yang “biasa” itu. Aku ingin mencari bunga edelweiss dengan warna lain untuk kekasihku tercinta. Padahal aku tak tau, apakah di gunung ini ada bunga edelweis berwarna lain selain dari bunga edelweis-edelweis biasanya.

“Naaahh… Itu dia…Akhirnya aku menemukannya!” Aku bersorak saking gembiranya. Ada bunga edelweis kuning! Indaaah sekali… Karena takjub dan gembira, aku pamerkan hasil buruanku itu kepada teman-teman. Duuh…sombongnya….

Berhari-hari kami ada di atas gunung. Setelah selesai tugas-tugas kami, tiba waktunya kami pulang ke rumah. Bergejolak rasa di dada, karena aku telah berhasil mendapatkan edelweis untuk kekasihku. Warnanyapun beda seperti biasanya. Rasanya aku ingin terbang menuju rumah, hingga cepat aku sampai kesana. Agar aku tak mendapatkan kemacetan yang sering terjadi di kota besar ini.

“Menyingkirlah kalian! Biarkan aku lewat agar aku cepat sampai rumah. Aku ingin memberikan bunga ini untuk kekasihku!”

Tibalah aku di muka rumah. Gembira rasa hatiku, karena aku telah pulang. Mungkin hari ini juga, bunga ini akan kuantarkan kerumah kekasihku. Lalu aku membayangkan betapa senang hatinya jika nanti kubawakan “pesanan”nya ini.

Tapi…… Ada apa rupanya? Mengapa tampaknya yang kutemui di rumah hanya wajah-wajah sedih? Apakah tidak ada orang yang menanti kepulanganku? Ayah? Ibu? Kakak? Mengapa semua diam? Berdegup rasanya jantungku. Apa yang telah terjadi? Mengapa semua diam membisu?

“Nak…. Syukurlah kamu sudah pulang…Kekasihmu telah tiada….” Ucap ibuku terbata-bata dengan airmata yang tak berhenti menetes di pipinya.

“Maksud ibu? Ada apa, Bu? Apa yang telah terjadi dengannya? Jelaskan, Bu….” Tanpa terasa airmatakupun menetes dengan derasnya, sambil mendengar cerita Ibu.

Ya Allaaah…. Kekasihku tercinta telah meninggalkan aku. Itulah arti dari tatapan kosongnya, arti dari senyuman tulus dan manisnya, arti dari lambaian tangannya, yang saat itu telah mengiringi kepergianku.

Bunga edelweis kuning yang kugenggam terjatuh dari tanganku. Aku tak sanggup menggengamnya…. Persendianku melemas, tubuhku melemah. Terduduk aku dilantai rumah. Ransel belum aku tanggalkan. Sepatu belum aku buka. Kepalaku pening, mataku bergenang air, lalu sesaat kemudian air-air itu terjatuh deras membasahi pipiku.

“Ya, Allaah…. Rupanya ini jawabMu. Hitam pekat rasanya duniaku. Kuatkan aku….”
Kuambil lagi bunga edelweis itu, kugenggam erat dengan kedua tanganku agar ia tidak terjatuh lagi. Bukan karena beratnya, tapi karena lunglainya tubuhku setelah mendengar berita duka ini.

“Tunggu aku… Aku kan tetap menemuimu, mengantarkan bunga edelweis yang kau minta. Aku tak peduli engkau ada dimana…”

Dengan langkah gontai, aku menuju pusaranya. Disini dia terbaring kaku. Tanah itu masih basah. Baru kemarin dia tiada. Mungkin hari-hari kemarin ia telah lelah menungguku dalam kesakitannya. Ingin kumaki diriku sendiri. Betapa kejamnya aku yang tega  meninggalkannya… Maafkan aku….. Aku yang telah meninggalkanmu sendirian dalam derita.

Kupanjatkan doa yang tertulus dari lubuk hati terdalam. Dan kutepati satu permintaannya, “Bunga Edelweis…” Ia jadi saksi betapa aku amat mencintainya. Walaupun kini hanya bisa kusematkan di pusaranya.  Tetap kupenuhi janjiku, walau kini kau hanya bisa diam membisu. Hanya angin perlahan meniup telingaku, seolah kekasihku berbisik dan mengucapkan terima kasih di telingaku. Lagi-lagi aku tertunduk dan menangis tanpa mampu berbuat apa-apa lagi.

Aku hanya bisa mempersembahkan bunga edelweiss yang dimintanya. Tapi doa-doa selalu kupanjatkan dengan tulus dan tak pernah putus untuknya. Selalu dan selalu….

“Selamat jalan Kekasih, tunggu aku di pintu surga…..”




moshirini, Kamis, 05 Maret 2009 13:18      




Jumat, Maret 19, 2010

Batu atau kayu?

Menurut lo, ini batu atau kayu? Atau batu yang udah terkontaminasi ma kayu? Halah.....

Jelas ini kayu, tapi entah kenapa kerasnya sudah seperti batu. Mungkin juga mereka sudah berkolaborasi. Hehehehe....

Mungkin karena batang pohon ini sudah bertahun-tahun bersenyawa dengan air laut dan menjadikan kayu mengeras seperti batu?

Entahlah.....

Kamis, Maret 18, 2010

It's So Amazing.... !!

Apa yang terlintas di benak lo saat lo liat gambar ini?

Coba lo amati, ada apa di pucuk tonggak2 kayu itu? Dan ada apa juga di kayu yang mendatar? Ada jajaran apa?

Hhmmmm..... You have no idea deh kalo ga ngeliat dari deket sendiri....

Lo tau ga? Di pucuk2 tonggak kayu itu ada burung2 laut yang bertengger dan di kayu yang mendatar mereka juga berbaris rapi berjajar menikmati hangatnya sang mentari pagi.

Dan ini pemandangan yang ga terduga sekali buat gw. Koq ya bisa2nya mereka berjajar rapi begitu, bahkan jaraknyapun seperti diatur sama komandannya. Ga ada saling sikut seperti manusia. It's so amazing!!

Arti Sepenggal Cinta



Aku hanyalah pemuda perantau, aku tak punya apa-apa. Harta, apalagi tahta. Hari ini bisa makan saja aku sudah bersyukur sekali. Aku merantau sejak SMP, karena ingin mandiri. Betapa sombongnya aku!

Tapi aku bangga dengan keadaanku sekarang. Aku memang benar-benar mandiri. Dari memasak, mencuci pakaian dan berbenah rumah selalu kukerjakan sendiri. Semua pekerjaan yang dikerjakan oleh orang tua aku kerjakan seorang diri.

Aku menyewa rumah kecil beserta ketiga teman-temanku. Teman-teman senasib sepenanggungan. Ada diantara mereka yang sudah bekerja, sekolah dan kuliah. Sedangkan aku sudah bekerja, walaupun pekerjaanku cuma pegawai kecil. Kami sering berbagi dalam hal moril maupun materiil. Dalam suka dan duka.

Usiaku telah cukup untuk menikah. Aku telah punya seorang kekasih, tapi aku masih belum punya nyali untuk meminangnya. Karena aku masih belum punya apa-apa, belum mapan. Rumahpun belum terbeli, bagaimana mungkin aku mau melamar anak gadis orang?

Tapi aku punya cinta, yang kurasa cukup untuk meminangnya, walaupun cinta tak cukup untuk menghidupi anak istrku kelak. Aku terus berfikir, bagaimana caranya agar pinanganku diterima oleh calon mertuaku nanti dengan gajiku yang pas-pasan ini. Tapi aku yakin, dengan kerja kerasku, aku dapat membahagiakan anak istriku kelak.

Dengan mantap, kubicarakan hal ini kepada kekasihku dan kedua orang tuaku di daerah. Mereka menyambut dengan gembira kabar baik ini. Dan telah kusiapkan baju terbaik yang kubeli di mall terkenal di kotaku. Telah kubayangkan betapa gagahnya aku memakai kemeja berwarna biru itu. Aahh… semoga saja orang tua kekasihku senang dengan sopannya penampilanku dan akan menerima pinanganku nanti.

Hayalanku terus melambung tinggi, karena aku berharap sekali akan diterimanya pinanganku. Dan sampai saat ini aku tak menemui kesulitan yang berarti dengan calon mertuaku itu. Semua berjalan seperti yang kami harapkan. Tak ada pertentangan dalam hubungan kami.

Sampai saat yang kutunggu-tunggu datang. Hari ini adalah hari besar bagiku, karena hari ini orang tuaku akan meminang kekasihku. Kekasih yang telah setia menemaniku dalam 3 tahun ini. Dialah orang yang sangat memahamiku luar dalam, dia tau segala tentang aku. Kelebihan serta kekuranganku. Karena itu aku memilihnya untuk menjadi pendampingku agar tak ada halangan dan rintangan dikemudian hari, karena kami sudah saling memahami satu sama lain.

Deg deg deg…… Berdegup kencang jantungku saat memasuki halaman rumahnya. Rumah mungil nan asri… semoga penghuninya juga se”asri” rumahnya nanti. Maksudku… Semoga saja pinanganku mereka terima!

Ting tong! Suara bel berbunyi merdu, semerdu dan segemuruh hatiku. Mereka menyambutku dengan kaku, tak ada senyum gembira di wajah-wajah yang terbiasa ramah itu. Sekilas terpikir hal-hal yang buruk melintas di benakku. Ada apa gerangan yang telah terjadi? Cepat-cepat kutepis pikiran-pikiran kotorku.

Sambil dalam hati kuberdoa agar tak ada kejadian buruk yang menimpa orang yang sangat kukasihi. Tapi… Ada apa dengan wajah-wajah kaku itu? Tak dapat sedikitpun kupahami apa yang mereka sembunyikan dari wajah-wajah gundah dan mata-mata sedih itu. Duuh… tak dapat kuhela lagi rasa keingintahuanku akan keberadaan kekasihku.

Sambil menikmati teh hangat yang disediakan si mbok, kamipun menyeruput teh hangat itu. Tapi mataku tetap lalang mencari-cari dimana kekasihku berada, kenapa dia tidak juga keluar dari kamarnya?

Kenapa perasaanku jadi kacau seperti ini? Dadaku sesak, ada firasat buruk menghampiriku, walaupun aku bukanlah orang “pintar” sehebat mereka-mereka yang dianugerahi indera keenam, tapi dalam hal ini aku merasakan sesuatu yang entah apa aku tak tau. Yang jelas, ini berkaitan dengan kekasih hatiku.

Dengan rasa penasaran, akupun bertanya kepada ibu dari kekasihku, “Maaf, Bu… Lalanya dimana ya?” Ibu tersenyum pahit sambil menggigit bibir. Lalu beliau berlalu kearah kamar Lala, untuk menjemput kekasihku.

Tak lama berselang, Ibu keluar kamar dengan mendorong kursi roda. Tapi, siapa gadis yang ada di atas kursi roda itu? Gadis itu tertunduk sedih. Dia berkerudung. Bukankah dia Lala, kekasihku? Dunia terasa berputar. Kakiku melemah, seperti tak berpijak di atas tanah.

“Tidaaak….. Lala……!! Ini benar Lalaku…!!” Menangisku bertubi-tubi, tak kuhiraukan semua orang yang ada di sekelilingku. Aku peluk tubuh kurusnya. Kuangkat wajahnya yang pucat. Matanya tak bergeming, pandangannya kosong.

Ya Allah… Aku tak tega menatap mata itu. Mata yang dulu indah dan berbinar, kini sayu karena menanggung derita. Rasanya ingin kuhujam saja pisau kejantungku! Apalah artinya aku kalau kekasihku bisa sampai begini? Bahkan aku tak tau peristiwa ini kapan terjadi. Ampuni aku, ya Allah… Aku tak bisa menjaga calon istriku ini. Beribu sesal tertumpah di dadaku. Tapi, apa dengan menyesali diri semua bisa kembali seperti sedia kala? Tak mungkin.

Ternyata Lala terserempet mobil saat dia mengendarai motor ke kampusnya. Kaki kakannya terseret ke dalam ban mobil dan terlindas kencang. Tulang-tulang kaki kanannya remuk dan penuh darah segar. Lalu supir yang menyerempetnyapun kabur seketika. Ditinggalnya gadisku itu terkapar di tengah jalan raya, sampai akhirnya beberapa tukang ojek menolong dan mengantarkan pualng ke rumahnya.

Dengan beribu sesal yang kian mendera. Aku berfikir, andai saja aku ada di sisinya, aku rela kejadian ini menimpaku saja, jangan dia… Kuambil jarinya, lalu kusematkan cincin yang telah kusiapkan untuknya tepat di jari manisnya. Sambil aku berucap pasti, “Lala, aku ingin melamarmu… Maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?”

Mataku berlinang menahan air mata yang ingin tertumpah deras, dadaku bergejolak. Aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Mengapa cobaan ini begitu berat! Disaat cinta ini ingin kurajut dengan pasti, Engkau beri cobaan seperti ini.

Tapi… apakah aku tega meninggalkannya seorang diri dalam deritanya? Aku bukanlah seorang pengecut seperti itu. Akan kuhadapi dan kuterima semuanya dengan lapang dada. Cinta kami terlalu besar untuk disia-siakan.

Kembali kudekap tubuh kurusnya, dan aku berkata pasti, “Aku tetap mencintaimu walaupun apa yang terjadi, aku tetap ada disini untukmu, dalam setiap suka dan dukamu..” Lala menangis tersedu-sedu, dia tak kuasa menahan segala haru. Karena besar dan tulusnya cintaku padanya.

Ya Allah… Aku sangat mencintainya dan aku tak akan tega membiarkannya menanggung derita sendiri. Aku akan berbagi dengannya sampai maut menjemput. Izinkan kami melewati segalanya dengan penuh cinta dan kasih. Kuatkan kami, ya Allah…

Tanpa kusadari semua mata diruangan itu memandang kami berdua berpelukan dan menangis bersama. Dari mata-mata merekapun mengalir aliran bening. Mereka semua menangis, tapi mereka juga tersenyum. Tersenyum akan tulusnya cinta milik kami berdua….



moshirini, Bekasi, 140509…..

Kepergianmu

Tak pernah kau berpamit tuk pergi
Hingga tak kuduga apa terjadi
Kala musnah segala cerita ceria
Tak seorang tau apa kau rasa

Mengapa tak kau ceritakan apa terjadi
Hingga kini kutak menangis sendiri
Merenungi takdir Illahi
Yang kini telah engkau jalani

Gerimis ini jadi saksi bisu
Mengiring segala doa untukmu
Kugaungkan keseluruh penjuru
Agar langkahmu ringan menuju




**Moshirini, 120509

Ingin Kulihat Senyummu, Bu….

“Bu, aku lapar…. Perutku melilit sekali, mau makan, tapi tak ada apa-apa yang dapat kumakan…” , Yanto berkata lirih kepada ibunya. Mata ibunya memanas. Ingin rasanya ia menangis, kerena tidak tau apa yang harus diperbuatnya untuk memenuhi keinginan anaknya tercinta.


Ditatapnya foto usang suaminya, yang berbingkai lusuh dengan kaca yang setengah terpecah. Hatinya menjerit lirih, “Aah… Andai saja engkau masih ada disini menemaniku, pastinya kejadian seperti ini tidak akan terjadi….”


Matanya tertunduk, ada air bening mengalir perlahan dari matanya yang lelah. Ia menunduk karena tidak ingin Yanto anaknya melihatnya menangisi kematian suami tercintanya. Walau dalam hati terasa pedih tiap hari yang dirasakan, apalagi jika ia memandang bingkai usang yang menghias foto lusuh suaminya.


“Coba kamu pergi kerumah tetangga sebelah, nak… mudah-mudahan ia bisa memberikan hutangan kepada kita, agar hari ini kamu bisa makan… Ibu mau selesaikan dulu baju ini, jika sudah selesai, tolong kamu antar ya? Agar kita mempunyai uang untuk makan hari ini dan besok lagi. Tapi, sekarang kamu pergilah ke tetangga sebelah untuk meminjam uang sekedar untuk makan pagi ini saja….” Kata Ibu.


Ibu beringsut dari tempat tidurnya. Sebenarnya tubuhnya saat itu sedang lemah, kepalanya seolah berputar. Entah sakit apa yang dideritanya. Bagaimana ia bisa tahu apa sakit yang dideritanya jika ke dokterpun ia tak mampu?


“Baiklah. Bu…. Perutku sudah lapar tak tertahankan..” sambil berlari kecil, ia menghambur ke luar rumah dan mengetuk pintu tetangga untuk meminjam uang sekedarnya.


“Bu, maaf….. Ibu menyuruhku untuk meminjam uang sekedar untuk makan pagi ini. Nanti siang setelah Ibu mengantarkan jahitan baju Ibu Narto, uang Ibu akan segera diganti. Tolong kami, Bu……” ucap Yanto setengah memelas memohon iba.


“Jangankan untuk meminjamimu, Yanto, untuk makan ibu dan anak ibu sendiri saja ibu tak ada uang….Maafkan ibu ya, nak?”


Dengan langkah gontai, yanto berjalan menyusuri trotoar. Dia sungguh bingung, apa yang harus dilakukannya? Tubuh mungilnya belum mampu melakukan pekerjaan seperti orang dewasa. Bahkan mungkin mencuci piringpun ia masih perlu memperhatikan dan belajar lagi dari ibunya.


Pening sungguh kepalanya. Rasa lapar terus menerus menerjangnya. Tapi tak ia pedulikan lagi. Kini ia hanya berpikir, bagaimana caranya agar ia dapat menolong ibunya, membawanya ke dokter, sedikitnya membeli obat. Agar cepat sembuh penyakit ibunya.


Sedih hatinya jika teringat keadaan ibunya yang kian hari kian memburuk. Tubuh ibunya demikian ringkih. Penyakit selalu senang menghampirinya, entah mengapa. Padahal kesehatan ibu sangat penting untuk memenuhi nafkah mereka. Yaah… siapa lagi kalau bukan ibu yang menafkahinya? Ayah Yanto telah tiada, meninggalpun juga karena didera penyakit yang tak jelas, karena memang tak pernah diperiksakan ke dokter.


“Ya, Allaah…. Berilah aku rezeki… Agar aku dapat menyembuhkan sakit ibuku, agar ia dapat sehat seperti sediakala…” Ia memanjatkan doa sambil matanya berkaca-kaca.


Karena lelahnya, ia terduduk di pinggir trotoar. Di depan sebuah toko yang telah tutup. Padahal hari belumlah sore. Tapi, karena hujan turun dengan lebatnya, mambuat took-toko tutup lebih awal. Mereka labih memilih menghangatkan diri dengan secangkir the daripada berdiri berjam-ja menunguu pelanggan yang tak kunjung tiba.


Saking lelahnya, iapun terlelap. Topi yang tadi ia pakai untuk melindungi kepalanya dari terik matahari siang ditanggalkannya, lalu diletakkan di samping tubuh kurusnya.


Entah berapa menit atau jam ia telah terlelap disana. Ia terbangun dari tidurnya, “Aaahh… Mengapa aku tidur di sini sementara ibu kesakitan di rumah?”Sambil berdiri perlahan, diambil topi yang tadi dipakainya.


Tiba-tiba, Cring! Cring! “Ada apa ini?” Alangkah terkejutnya dia. Sejumlah uang recehan dan uang kertas berjatuhan dari dalam topi yang hendak dipakainya. “Uang darimana ini?” Ia berfikir keras sambil berkernyit dahinya.


“Mengapa ada uang di topiku?” Berjuta tanya hinggap di kepalanya.


Akhirnya, barulah ia menyadari, bahwa orang-orang yang lewat di sekitar toko tempat dia tertidur tadi, rupanya menaruh kasihan kepadanya. Seorang anak kecil, dekil, tertidur meringkuk di tepi jajaran toko2, disela rinai hujan. Hmmm…. Hati siapa yang tak iba?


“Jadi….. Orang menyangka bahwa aku adalah pengemis?” Ada rasa sedih dan gembira berkecamuk didadanya. Sedih karena ia disangka pengemis, tapi ia juga gembira karena uang yang didapatnya dari belas kasihan orang-orang bisa dipakainya untuk mengobati ibunya yang sedang terbaring sakit. Walaupun uang itu hanya cukup untuk sekedar membeli obat dan makanan untuk ibu dan dirinya saja.


Sambil mengucap syukur yang tak terperi kepada Illahi, matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat gembira, tanpa disangka-sangka ia mendapatkan rezeki dari Allah melalui tangan-tangan dermawan itu.


Sambil berlari kecil, ia menuju toko obat kemudian menghambur lagi ke warung nasi. Tak sabar ia menggenggam bungkusan-bungkusan itu untuk segera diberikan kepada ibunya. Alangkah senang ibunya jika dia pulang membawa obat dan makanan.


“Ibu….. Aku datang, Bu….. Aku bawa obat dan makanan untuk Ibu…..” Ibu bangun perlahan dari tempat tidur lusuhnya dan menghampiri anak semata wayangnya. Diberikannya kedua bungkusan itu kepada ibunya dengan perasaan bangga dan bahagia.


Ibu menerima kedua bungkusan itu, lalu bertanya, “Darimana kau dapatkan semua ini, nak?”


“Aku berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberikan rezeki untuk membeli obat dan makanan untuk ibu. Aku ingin Ibu cepat sembuh…. Aku ingin melihat ibu tersenyum lagi…”


“Lalu, uang itu darimana?” Ibu bertanya kembali. Akhirnya diceritakanlah semua yang telah terjadi beberapa saat lalu. Dari awal hingga akhir.


Tanpa terasa, meneteslah airmata haru dari ibunya. Dipeluknya tubuh malaikat kecil itu, sambil berbisik lirih ditelinganya “ Ibu sangat menyayangi kamu, nak…Engkau telah memohon kepadaNya. Dan doamu dikabulkan olehNya….”


Ibu dan Yanto berpelukan penuh kasih sayang. Memang cinta tulus seorang ibu sepanjang jaman, tapi cinta seorang anak yang berbakti kepada orang tua juga tak terlukiskan dengan kata-kata.



**Moshirini, Bks, 020409

Nasib Sang Pangeran Katak








Hmmmm.... emang manusia suka pada iseng aja... ga bole liat yang aneh dikit deh, maen foto aja, ga sopan!

Ekke mau nyantai bentaran aja udah ada paparazzi yang ngejar! nasib... nasib....

Pigura Tua




Gemintang di langit…
Dapatkah kau sampaikan
Bahwa aku rindukannya

Aku tau pasti
Dia juga terbenam sepi
Tanpa mampu membunuhnya

Dia yang telah menoreh hati
Mampu membawa asa kembali
Dalam jarak yang tak pasti

Terus kugapai sambil berlari
Bayangmu tak jua kutemui
Hanya pigura kosong yang tak terisi

Pigura itu tlah tua dan lapuk
Padanya dulu ada sebentuk wajah
Yang pernah menghiasi hati
Dan selalu mengusir rindu

Kini ia kosong tak berpenghuni
Hanya jejak gambar tebal berdebu
Dan terdiam di sudut peti….


Moshirini, 2009

Save Our Planet