Tulislah... Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, apa yang kau rasa dan apa yang kau harap....
Senin, Maret 22, 2010
Ampuni Kami
Kamis, Maret 18, 2010
Kepergianmu
Hingga tak kuduga apa terjadi
Kala musnah segala cerita ceria
Tak seorang tau apa kau rasa
Mengapa tak kau ceritakan apa terjadi
Hingga kini kutak menangis sendiri
Merenungi takdir Illahi
Yang kini telah engkau jalani
Gerimis ini jadi saksi bisu
Mengiring segala doa untukmu
Kugaungkan keseluruh penjuru
Agar langkahmu ringan menuju
**Moshirini, 120509
Pigura Tua

Gemintang di langit…
Dapatkah kau sampaikan
Bahwa aku rindukannya
Aku tau pasti
Dia juga terbenam sepi
Tanpa mampu membunuhnya
Dia yang telah menoreh hati
Mampu membawa asa kembali
Dalam jarak yang tak pasti
Terus kugapai sambil berlari
Bayangmu tak jua kutemui
Hanya pigura kosong yang tak terisi
Pigura itu tlah tua dan lapuk
Padanya dulu ada sebentuk wajah
Yang pernah menghiasi hati
Dan selalu mengusir rindu
Kini ia kosong tak berpenghuni
Hanya jejak gambar tebal berdebu
Dan terdiam di sudut peti….
Moshirini, 2009
Sabtu, Februari 21, 2009
Jangan kau ikuti aku lagi, cinta...
Tak habis orang bicarakanmu
Bosan rasanya aku memikirkanmu
Mungkin karena kecewaku akanmu?
Atau benciku tertimpa rindumu?
Entahlah…
Semua tak kupedulikan lagi
Kubungkus rapi
Kusimpan kau di sudut hati
Lalu kutinggal pergi
Sambil kubergumam dalam hati,
“Jangan ikuti aku lagi!”
Ampuni kami, ya Allah...
Tolong dengarkan….
Mungkin kau bosan akan kami
Yang selalu menari di atas kubangan dosa
Tertawa di atap nista
Kala jiwa ini terpuruk
Baru kami merunduk
Tak kuasa menatapMu
Ampuni kami,
Mahlukmu yang paling sempurna
Tapi sarat dengan segala dosa…..
Dapatkah kau bawa langit senja itu untukku, sahabat ?
Ingatkah kau pada langit senja
Yang merona indah dibatas cakrawala?
Disana kita bersenda
Seakan tak ada lagi duka
Yang mengekang jiwa kita
Kini kucari langit senja itu
Ku kejar ke ufuk barat tiada
Ke ufuk timurpun sama
Dapatkah kau bawakannya untukku
Agar kita dapat bersenda ditepiannya
Seperti dulu lagi?
Selasa, Februari 03, 2009
Jadilah Pejantan Sejati...
Aku bergumam dalam hati
Darahku berdesir
Wajahku kotak-kotak,
Kaku….
Tak ada lagi senyum di
“Kemari kau, wahai sang Pembual!”
Hadapi aku!
Jangan kau sembunyi dibalik dinding!
Jadilah pejantan sejati!
Bukan aku sombong
Tapi memang ini caranya
Harus kau berani hadapi segala
Akupun tak pegang senjata
Mari kita bertatap mata
Untuk selesaikan semua
Mungkin hanya itu yang aku bisa
*** Be Gentle...
Tangan Mungil Itu....
Tangan-tangan mungil itu begitu dekil
bersimpuh di tepi trotoar
memandang besi-besi beroda nan angkuh
berpuluh bahkan ratusan tatap jijik menujunya
Malam ini,
dimana lagi ia akan bernaung
berpeluk dengkulnya sendiri
mengusir dingin yang beku
sampai menusuk tulang
Terkadang hanya telan ludah sendiri
Tuk usir dahaga
Yang mencekik leher
Berkali-kali tangan mungil itu menadah
Berharap iba dari kita
Hanya lambaian tangan tanda “tidak” untuknya
Apakah hanya itu yang pantas mereka dapatkan?
Terjadilah....
Detak jantung berdegup cepat
Ruang hati terisi seketika
Biasanya kosong dan kerontang
Apa yang terjadi?
Semua begitu samar
Sampai dahi ini berkernyit
Aaah… Aku malas berfikir
Apa yang bakal terjadi lagi
Biarlah semua mengalir
Berjalan seperti biasa
Ikuti saja iramanya
Sampai kaki ini terkulai
Dan tubuh merebah dengan sendirinya….
Sabtu, Januari 31, 2009
Kunanti Jawabmu....
Bertatap denganmu
Bagai berbatas kaca tebal
Nyata tapi tak nyata
ku tak bisa menggapai
Tak bisa merasa
Apa ragamu masih disana?
Dan aku seperti menggali kuburanku sendiri
Membuat hati ini tersayat dan bernanah
Tak ada lagi darah
Tapi nanah
Pertanda lukaku sudah dalam
Menohok relung hati sampai kesudut dan tepinya
Jalanku telah gelap untuk dilalui
Tak ada dinding untuk berpegang
Semua samar
Pekat…
Tolong kau jawab
Apa arti semua ini?
Kamis, Januari 29, 2009
Sayap-sayap Patah....
Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..
Begitu rapuh dan mudah terluka..
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa..
Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam hati ini..
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat..
juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada..
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…
Wahai ilalang…
Pernah
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga..
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit
Menunggumu dengan setia..
Menghargai apa arti cinta…
Hati yang terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu….
Disudut hati yang beku…
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan ….
Sebelum hilang di terpa angin…
Sambil terduduk lemah….
Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh…
Ku gapai kepingan di sudut hati…
Hanya bayangan yang ku dapat….
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah..
Tertusuk duri-duri yang tajam….
Hanya bisa meratap….
Meringis..
Mencoba menggapai sebuah pegangan..
By : Kahlil Gibran
Selasa, Januari 27, 2009
Ibu.....

Ribuan kilo jarak yang kutempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas.... Ibu....
Ingin ku dekap dan menangis dipangkuanmu
saat aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas... Ibu......
Bobo dong.........
Kamis, Desember 18, 2008
Tuntun Aku, Ya Allah.. Selasa, 02 September 2008 07:09
Bersujud di hadapmu, ya Allah...
aku bagai debu
yang sekejap bisa tersapu angin
Berlutut di hadapmu, ya Allah...
aku bagai jarum
yang tertimpa tumpukan jerami
Aku malu untuk menujuMu
karena Engkau kuhampiri
saat letih jiwaku
dan pupus asaku
Biarkan kumenangis
tuk berserah diri padaMu
bukan untuk saat ini saja
tapi selama darah masih mengalir
dan nafas masih terhembus
Tuntun aku, ya Allah...
meniti tebing curam
yang tak mampu kulalui sendiri
kemana aku harus berpegang,
jika tanganMu tak bisa kuraih?
Genggam erat tanganku
jangan lepaskan aku
tuk menuju jalanmu
jalan yang Engkau pilihkan untukku....
